Cara Menulis Daily Log agar Tidak Terasa “Karangan SD”
Intinya: jangan cuma mencatat kejadian, tapi beri napas di dalamnya. Sedikit refleksi, variasi bahasa, dan sentuhan personal sudah cukup.
1. Pakai Pola Aktivitas + Refleksi
Menulis apa yang dilakukan itu perlu, tapi belum cukup. Tambahkan dampaknya ke pikiran, emosi, atau kondisi diri.
-
❌ “Saya makan mi buatan sendiri.”
-
✅ “Mi racikan sendiri pagi ini jadi penyelamat mood sebelum tenggelam di tumpukan kode.”
👉 Prinsipnya:
Apa yang terjadi + apa artinya buat kamu.
2. Jangan Selalu Mulai dengan “Saya…”
Kalau semua kalimat dimulai dengan “saya”, tulisan jadi datar. Mainkan posisi kata: waktu, suasana, atau hasilnya duluan.
-
❌ “Saya jalan kaki 4,5 km setelah Subuh.”
-
✅ “Udara setelah Subuh menemani langkah sejauh 4,5 km pagi ini.”
-
✅ “Target 4,5 km akhirnya tuntas saat matahari mulai naik.”
👉 Anggap kalimat seperti kode: urutannya bisa di-refactor tanpa mengubah makna.
3. Hindari Kata yang Itu-Itu Lagi
Pengulangan bikin tulisan terasa malas. Padahal kamu punya banyak opsi kata.
Contoh pengganti:
-
Mabar → sesi main bareng, agenda santai, pelarian ke dunia virtual
-
Mengerjakan → mengulik, mengeksekusi, menuntaskan, bergelut dengan
-
Mendukung → memberi ruang, mengizinkan, memvalidasi, menciptakan suasana
👉 Tidak perlu puitis. Cukup bervariasi.
4. Pakai Kalimat Jembatan Antar Bagian Hari
Daily log sering terasa “lompat-lompat”. Solusinya: satu kalimat transisi yang halus.
-
❌ “Setelah itu siang hari saya malas…”
-
✅ “Memasuki siang hari, ritme kerja mulai melambat. Mendung sejak Dzuhur rasanya memberi izin untuk rehat.”
👉 Anggap pagi–siang–malam itu scene, bukan checklist.
5. Tampilkan Persona Kamu (Developer & Chemist)
Ini senjata terkuatmu. Gunakan analogi dan istilah yang memang hidup di kepalamu.
-
“Otak terasa masuk mode idle karena cuaca mendung.”
-
“Journaling malam ini rasanya seperti debugging perasaan setelah seharian error kecil.”
👉 Tulisan jadi punya identitas, bukan template orang lain.
— AI assisted —
⌛ Created Sunday, 11 January 2026 - 09:55