⚡ Priority
- Docking
- Belajar Kimia komputasi
- Journaling
- Belajar Bahasa
- Latih logic dengan programming
- Membaca buku minimal 5 lembar
📝 Note
Morning ⛅
Ada harga yang harus dibayar dari keseruan mabar semalam. Antara kantuk dan suara kucing di jam satu pagi, pertahanan saya runtuh hingga baru terbangun saat matahari hampir terbit. Subuh memang aman, tapi rute jalan kaki pagi ini terpaksa sepi tanpa kehadiran saya. Besok harus kembali ke ritme awal. Sisi positifnya, karena tidak jadi jalan kaki, saya punya waktu lebih lama untuk memandangi isi jurnal. Di situlah saya sadar: tulisan saya monoton sekali, ya? Rasanya seperti membaca log komputer daripada cerita hidup. Alhasil, pagi ini saya putuskan untuk ‘merestorasi’ cara saya bercerita, mengubah kalimat yang kaku menjadi lebih bercerita.
Setelah sesi journal pagi dengan bantuan Obsidian akhirnya saya tutup dengan satu point penting yaitu evaluasi berupa Tips memperbaiki gaya tulisan, saya beralih tab atau lebih tepatnya workspace untuk fokus dalam agenda selanjutnya yaitu belajar dan menghubungkan berbagai ilmu dalam kimia komputasi yang sedang saya coba tekuni untuk studi selanjutnya.
Noon 🔅
Menjelang siang ini, fokus saya terserap oleh Konsep Energi Potensial Permukaan ( PES). Materi ini menarik karena mengupas jantung dari kimia komputasi, yakni bagaimana optimisasi struktur kimia sebenarnya bekerja. Semuanya bermula dari Aproksimasi Born-Oppenheimer. Konsep ini menjelaskan interaksi antara inti atom dan elektron dengan analogi yang sangat unik: gajah dan kupu-kupu. Karena massa inti atom (si gajah) jauh lebih berat daripada elektron (si kupu-kupu), inti atom cenderung bergerak sangat lambat hingga bisa dianggap diam.
Beranjak dari asumsi tersebut, kita bisa memvisualisasikan interaksi antar-atom ini layaknya sebuah bola yang terhubung pada pegas. Dalam skala paling sederhana, hubungan antara energi dan jarak antar-atom ini membentuk kurva 2D pada diagram Kartesius—sebuah garis melengkung di mana titik terendahnya melambangkan kondisi paling stabil.
Namun, keajaiban yang sebenarnya terjadi saat dimensi tersebut meluas. Ketika kita berurusan dengan molekul yang lebih kompleks, kurva sederhana tadi bertransformasi menjadi lanskap 3D yang dramatis, lengkap dengan bukit, celah, dan lembah yang dalam. Di sinilah letak ‘sihir’ kimia komputasi. Melalui proses optimisasi, komputer seolah-olah menjadi penjelajah yang menelusuri lanskap tersebut; ia terus memutar sudut ikatan dan menggeser jarak antar-atom secara iteratif.
Komputer akan terus ‘berhitung’ dan mencari jalan turun hingga akhirnya mencapai Stationary Point—sebuah titik kestabilan absolut di dasar lembah energi. Menemukan titik ini bukan sekadar urusan angka, melainkan kunci untuk memahami bagaimana sebuah molekul benar-benar eksis dan bereaksi di alam semesta.”

Night 🌃
Seiring hari berganti malam, atmosfer produktivitas saya mendadak luruh bersama datangnya badai hujan. Suara air yang menderu di atap membuat fokus pada materi berat terasa mustahil untuk dipertahankan. Saya pun menyerah pada keadaan dan memilih untuk memanjakan diri dengan ritual dapur yang sederhana.
Malam ini saya meracik mi goreng ‘fusion’; sebuah kreasi mi goreng yang berani menabrakkan rasa cabai dan kencur. Hasilnya? Sebuah sajian yang punya karakter rasa ala seblak namun dengan tekstur mi goreng yang tetap terjaga. Terkadang, tidak melakukan hal produktif dan hanya fokus pada sepiring mi hangat adalah bentuk self-care yang paling dibutuhkan, terutama saat cuaca di luar sedang tidak bersahabat.
Note: Proses ‘memutar-mutar’ mencari sudut ini sebenarnya adalah implementasi dari algoritma Gradient Descent atau Newton-Raphson dalam level matematika tingkat lanjut. Sama seperti saat kita mengoptimasi performance sebuah aplikasi.
Dibuat: 07:42 | Week 03
✅ Daily Completion
83.3% (5/6)
📊 Monthly Completion (2026 January)
███████░░░ 71.2%